Rabu, 25 Januari 2012

IN MY MIND

          Kadang aku merasa hidup ini sepi, kecil dan sangat sempit, namun kadang begitu ramai dan sangat luas. Kadang pula aku merasa hidup ini ramah, indah dan sangat indah. Tapi ada saatnya hidup ini begitu kejam, kelam dan kelabu. Sesungguhnya ada apa dibalik semua itu? Dari situ aku mencoba berpikir bahwa hidup itu pilihan bagi yang menjalani, semua yang kita hadapi itu terjadi karena pilihan kita sendiri. Apapun suasana yang kita rasakan dan kita hadapi adalah hasil dari pemikiran, yang kemudian berkembang menjadi pilihan kita. Kita hidup untuk merasakan nikmatnya perkembangan. Semua berawal dari ketidaktahuan menjadi tahu dan bahkan menjadi sosok yang ingin dianggap Maha tahu melalui sebuah proses yang luar biasa, dengan begitu tumbuh keinginan untuk menguasai dunia. Namun, apakah itu yang sebenarnya ingin kita capai? Bukan!
        Alangkah indah dan tentramnya kehidupan kita jika diselimuti rasa cinta damai dan saling berbagi, berbagi bukan berarti selalu dengan materi, tetapi ada hal yang paling berarti di atas semua itu, yaitu cinta, kasih dan sayang. Senyuman tulus terurai disepanjang perjalanan hidup kita, disetiap hembus nafas kita selalu tergambar suasana sejuk akan ketulusan hati. Tak perlu berpikir muluk, namun pikiran kita selalu mengalir, mengalun lembut selayaknya lantunan melodi yang menghanyutkan jiwa. Membuka mata hati kita untuk menikati perjalanan hidup dengan rasa cinta, kasih dan sayang.
Keinginan berpikir tinggi itu wajar bagi makhluk hidup yang namanya manusia, tapi berpikir tinggi dengan dasar cinta, kasih dan sayang itulah yang ingin sekali saya rasakan. Walaupun itu tak mudah tapi tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup. BISA! Kata itu adalah kunci kita meraih apa yang kita rencanakan. Tetapi tidak lepas dari qodar, manusia hanya bisa berencana dan berusaha menjalankan yang kita rencanakan, untuk hasil Allah-lah yang Maha Mengetahui yang terbaik buat hamba-Nya.
         Begitu pula separuh perjalanan yang saya rasakan, walau saya merasa ini baru mulai dan awal saya untuk belajar berdiri, mewujudkan damai dihati. Berpikir tinggi atas dasar rasa cinta, kasih dan sayang. Itulah yang ingin sekali saya rengkuh. Keinginan tinggi memang harus ada dan tertanam dalam diri kita, tapi yang perlu saya luruskan adalah dasar untuk membangunnya. Kebanyakan orang berpikir tinggi menjadi sebuah obsesi yang tinggi pula.
Dari saya berusia balita hingga usia remaja perjalanan hidupku begitu lancar dan indah, seolah apa yang telah saya raih itu begitu memuaskan bagiku pribadi dan orang disekelilingku. Itu merupakan hasil dari berpikir tinggiku, akan tetapi dikala itu saya belum berpikir dasar dalam diri saya, semua mengalir begitu saja dengan mulusnya. Tanpa saya sadari saya berpikir, sebenarnya ada dasar yang saya alami dalam proses perjalananku. Dan anehnya usaha yang saya keluarkan itu tak bisa saya ingat, seberat apakah untuk meraihnya saya sama sekali tak mengingatnya dengan baik, seolah berjalan dengan sendirinya. Ketika menginjak ambang pintu keluar remaja begitu banyak kerikil-kerikil yang menghiasi perjalananku. Untuk meraih sesuatu yang kita impikan ternyata membutuhkan pengorbanan dan perjuangan. Dari situlah saya mulai berpikir lebih sedikit meningkat. Yaitu mengenai perjuangan dan hasil. Kemudian meningkat lagi yaitu kepribadian kita turut menentukan hasil. Dan kini barulah terkonsep akan dasar yang ingin sekali saya bangun dan pikirkan, yaitu kesuksesan yang dibangun atas dasar cinta, kasih dan sayang, khususnya terhadap semua dan sesama. Saya merasa itu akan menjadi dasar dari sebuah kesuksesanku.
        Saya berusaha menjalani hidup ini dengan penuh kelembutan, penuh cinta, kasih dan sayang. Karena hati saya berkata bahwa kelembutan diriku akan menabur benih-benih yang menyejukkan kalbu bagi lingkungan sekitar. Walau saya seperti manusia pada umumnya yang terkadang mengalami sebuah perbedaan, pertentangan, melakukan sebuah kekhilafan dan adakalanya terbawa arus pergaulan ke arah yang berlawanan dengan kata hati dan prinsip saya. Tapi sebisa mungkin saya akan belajar dan terus belajar untuk meredam dan mengontrol diri saya. Termasuk berusaha untuk menahan emosi. Belajar untuk tersenyum pada kesalahan dan pertentangan maupun perbedaan yang ada. Dengan memposisikan kita pada posisi orang lain. Sesungguhnya Allah pun telah menciptakan kita dalam posisi yang jauh dari kata sempurna, tidak ada manusia yang sempurna. Oleh sebab itu, saya pun merasa bahwa saya juga tak akan pernah luput dari kesalahan. Coba renungkan, disaat kita berada pada pihak yang bersalah tentunya kita akan selalu berharap untuk diterima dan dimaafkan. Dari situlah saya berpikir bahwa mereka yang berada pada pihak bersalah tentunya akan merasakan hal yang demikian pula. Dengan banyak memberi maaf insyaallah Allah dan orang di sekitar kitapun akan memberikan maafnya ketika kita melakukan hal yang khilaf. "Tersenyumlah, karena dunia akan turut tersenyum olehmu"
           Kembali membahas tentang sebuah impian. Kita wajib bermimpi tapi adakalanya mimpi kita tak sesuai dengan ketetapan Allah. Saat impian kita tak terwujud, di situlah bukti bahwa Allah sangat peduli pada hambaNya. Allah menunjukkan jalan yang lebih baik buat kita, karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas segalanya. Begitupun saya, saya mempunyai banyak angan-angan yang ternyata belum sesuai dengan saya, "sebagai contoh dalam memilih kuliah, yang awalnya saya berharap mendapat beasiswa dipendidikan akuntansi ternyata saya dapatnya dijurusan pendidikan Bahasa Inggris". Dari situ saya berpikir bahwa Allah Maha Tahu yang lebih baik buat kita, dan yang baik itu tentunya tidak mudah. Untuk mendapat yang terbaik membutuhkan usaha yang terbaik pula. Angan yang selalu saya bayangkan yaitu ingin mendidik putra-putra bangsa harus saya perjuangkan, walau harus berusaha meninggalkan zona nyaman saya. Begitu banyak hal yang ada dalam pikiran saya, namun ternyata saya berada pada pijakkan pertama, yaitu pendidik. Sebuah harapan yang telah tertanam dalam kalbu sejak saya masih berada di bangku SD. Hingga SMA harapan itu tak pernah pupus, walau terkadang terlintas anggan yang lain. Ibaratkan disaat kita melihat sebuah sinetron, begitu banyak iklan yang mengganggu keasyikkan kita. Angan kita juga demikian, begitu banyak hal-hal lain yang terlintas menghiasi pikiran kita. Tapi dari banyaknya angan tersebut tentunya ada salah satu angan yang terbaik dan sesuai buat kita. Walau kita belum tahu pasti berhasil atau tidak yang jelas kita punya hak untuk berhasil dan memilih jalan hidup kita masing-masing. Selain itu kita juga memiliki kewajiban untuk merealisasikan apa yang kita angankan. Untuk itu bagi yang mengalami hal sama dengan saya, yaitu sedang menjalani perjalanan yang sudah tahu kita keberatan, janganlah terus-terusan Anda berusaha melarikan diri, mungkin Allah sedang menyiapkan kesuksesan kita dibalik rasa berat tersebut. Mulailah belajar mencintai zona tidak nyaman Anda. Dan berpikirlah solusi untuk menghadapi ketidaknyamanan maupun beratnya jalan hidup yang kita jalani. Isilah hari-hari dengan rasa cinta, kasih dan sayang terhadap siapapun dan apapun yang ada, semoga Allah memberkahi kalian atas cinta, kasih dan sayang yang telah kalian curahkan.

 
Salam Senyum Dariku ^_^

"Tersenyumlah, karena dunia akan turut tersenyum olehmu"  

2 komentar: