Pertemuan Humanistic Studies 1 Senin kemarin merupakan
pembukaan mata kuliah HS yang menakjubkan menurut saya. Pertemuan pertama
setelah Ujian Tengah Semester dibuka dengan menghadirkan dosen tamu dari UI
yaitu Ibu Saras Dewi. Sebuah hadiah yang besar buat saya sebagai pengagum lagu
Lembayung Bali sejak SMA dulu, yang mana kini dapat bertatap muka dengan
pelantunnya secara langsung, bahkan di ajar olehnya. Saya tidak menyangka
ternyata Ibu Saras Dewi adalah orang yang hebat, seorang Dosen UI dan bahkan
sudah berkeluarga. Pada kesempatan yang singkat tersebut, kami banyak belajar
tentang hal yang dasar mengenai Filsafat dan Agama. Dengan gayanya yang santai
dan sederhana, dia memberikan penjelasan seputar sejarah Agama dan hubungannya
dengan Filsafat. Ilmu baru yang sangat bermanfaat bagi saya, saya pun mendengarkan
dan berusaha memahami yang disampaikan. Ada beberapa yang dapat saya mengerti,
namun ada juga yang belum saya mengerti. Ada satu hal yang benar-benar saya
tangkap yaitu agama dan filsafat harus berjalan seiring, jadi dalam menjalankan
ajaran agama kita tidak hanya sekedar ritual, tapi menggunakan akal dan logika
kita.
Sepemahan saya berdasarkan perkuliahan kemarin, “Religion” berarti kepatuhan terhadap
yang sakral dan ligare berati ikatan.
Sedangkan definisi menurut saya pribadi, agama adalah sebuah keyakinan yang
menghubungkan saya dengan Tuhan atau dzat yang menciptakan saya dan segala alam
semesta seisinya ini. Hubungan itu sangat terselubung yang mana tak dapat dinilai
oleh siapapun kecuali hati saya dan Allah SWT. Saya yakin adanya dzat yang
menciptakan saya karena hati saya yang mempercayai akan adanya dzat yang lebih
berkuasa dan mampu menciptakan kehidupan yang serba sempurna ini. Memang selama
ini tidak ada definisi agama secara paten, namun pada dasarnya agama adalah
sebuah keyakinan yang sakral yang mana dapat mengarahkan dan menyadarkan kita
umat manusia untuk dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Segala sesuatu
ada di dunia ini tidak mungkin bisa muncul dengan sendirinya, pasti ada Sang
penciptanya. Saya meyakini Allah sebagai Tuhan saya yang mampu memberikan saya
dan makhluk hidup yang lain kehidupan.
Motif-motif orang beragama yaitu; untuk memahami hidup
yang didasarkan pada rasa keheranan terhadap hidup. Tentulah kita akan merasa
heran betapa luar biasanya Dzat yang menciptakan kehidupan hingga berjalan
dengan sempurnanya tanpa cacat sedikitpun. Subhanallah. Motif kedua orang
beragama yaitu untuk menanggung kesengsaraan menjalani hidup, bahkan menebus dosa
dengan menerima kesengsaraan demi menyatu dengan Tuhan. Kehidupan ini tidak
akan selamanya berjalan mulus. Ada kalanya kita akan memenui beberapa kendala
atau kesulitan, di saat seperti itulah orang akan membutuhkan Dzat yang lebih
mampu melindunginya. Tiada yang mampu melindungi dan membantunya kecuali yang
menciptakannya. Oleh karena itu, orang akan mempercayai adanya Tuhan sebagai
tempat kita mengadu dan meminta bantuan, berusaha dan berserah diri pada-Nya.
Sebaliknya, untuk itulah kita juga harus menjalankan kewajiban kita pada-Nya
sebagai wujud kepatuhan dan rasa syukur kita atas segala nikmatnya. Motif
ketiga adalah orang akan beragama karena agama sebagai sumber acuan nilai-nilai
moral. Ajaran agama yang ada sebenarnya memiliki niatnya sama, yaitu akan
mengajarkan kita untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang
harus kita lakukan dan tidak layak kita lakukan. Semua ajaran agama akan
mengajarkan umat manusia untuk menciptakan ketentraman dan kebaikan dalam
hidup. Motif yang terakhir yaitu orang beragama untuk beribadah mencapai
pembebasan atau surga atau kehidupan yang abadi.
Saya meyakini adanya Tuhan tidak perlu menyampaikan
beribu alasan dan bukti apakah Tuhan ada atau tidak, tetapi bagaimana saya
meyakini dan menjalaninya. Bagaimana saya menghubungkan diri saya dengan yang
menciptakan saya dan bagaimana saya bersyukur pada yang menciptakan saya.
Kehadiran Tuhan ada pada hati saya yang paling dalam, yang mana rasa cinta ini
tak dapat diungkapkan ataupun diukur oleh manusia. Hanya Tuhanlah yang mampu
mengetahui dan mengukurnya. Di saat saya melakukan kesalahan, hati saya akan merasakan.
Detak jantung pun turut berubah disaat melakukan sesuatu yang tidak sesuai
dengan ajarannya.












