Multikulturalisme adalah sebuah cara pandang atau perspektif yang mana semua orang berhak memiliki kebebasan untuk memilih. Seseorang akan dapat rasa saling menghargai dan memahami orang lain atau perbedaan yang ada di sekitarnya karena adanya multikulturalisme. Multikulturalisme pertama kali muncul di masyarakat Barat yaitu setelah terjadinya perdebatan atau perbedaan pandangan antara paham liberalisme dan komunitarianisme. Kemudian, pada artikel yang saya baca dijelaskan pula bahwa terdapat tiga fase dalam evolusi debat tentang hak minoritas, hal ini terdapat dalam “Politics in the vernacular”, yaitu; fase sebelum tahun 1989, fase setelah tahun 1989 dan fase dalam konteks nation-building (upaya mempromosikan integrasi ke dalam sebuah societal culture).
Terdapat 3 teoritis yang melatarbelakangi munculnya multikulturalisme berdasarkan tiga fase di atas, antara lain:
1. Liberalisme dan komunitarianisme
2. Liberalisme tentang minoritas (kewarganegaraan multikultural)
3. Integrasi masyarakat / ‘societal culture’
Menurut saya pribadi, untuk saat ini justru yang harus dipikirkan adalah mengenai efek dari adanya multikulturalisme. Setelah muncul multikulkturalisme tentu saja tidak akan cukup berhenti sampai di sini, karena kita harus memikirkan pada akhirnya prbedaan itu harus disatukan secara paksa atau dengan cara lain. Harus menggunakan dasar asimilasi, segregasi atau integrasi kah? Itulah sebenarnya yang menurut saya lebih penting saat ini.
• Asimilasi adalah peleburan, yang mana semua dileburkan atau sepenuhnya dileburkan. Asimilasi yang sangat menonjol adalah terjadi pada masa Uni Soviet. Tidak boleh ada perbedaan.
• Segregasi atau separasi adalah pemisahan.
Contoh: penempatan suku tertentu pada tempat tertentu dan dikelompokkan di suatu tempat atau disatukan.
• Integrasi adalah penyatuan.
Contoh: seseorang bebas memilih tetapi tetap satu yaitu sebagai warga negara Indonesia. Negara menetapkan nilai-nilai apa yang harus ada. Jadi, yang akan dileburkan tidak semua, melainkan sebagian atau yang perlu dileburkan saja dan sebagian yang sekiranya tidak perlu dileburkan tidak akan dileburkan.
Liberal adalah suatu sistem politik yang menghargai adanya kebebasan (bebas). Kemudian, liberalisme adalah suatu pandangan yang mana setiap individu diberi kebebasan yang sebebas-bebasnya untuk memilih sesuai keinginannya sendiri. Paham ini muncul setelah terjadinya revolusi Perancis. Di Perancis sempat terjadi peraturan yang melarang penggunaan jilbab, terutama di tempat-tempat publik, contohnya di sekolah-sekolah negeri. Komunitarianisme adalah suatu paham atau pandangan yang menyatakan bahwa kebebasan berdasarkan pada identitas kelompoknya. Sedangkan komunis adalah suatu sistem politik yang menyeragamkan.
Problematik multikulturalisme:
- Kuatnya politik identitas agama dan etnis yang menimbulkan radikalisme, ekstrimisme dan terorisme.
- Lemahnya otoritas negara pusat dan daerah, yaitu lemahnya penegakkan hukum.
- Tidak adanya masyarakat sipil demokratis.
- Melahirkan segregasi, yaitu masing-masing kelompok identitas hidup terpisah dalam kotak-kotak tertentu yang berbeda-beda.
Tiga kriteria masyarakat sipil:
- Rasional
- Sekuler
- Demokratis
Kaum minoritas pun juga memiliki beberapa problematik, di antaranya:
- Asumsi esensialis tentang kelompok minoritas.
Kelompok minoritas adalah kelompok yang di anggap paling sedikit jumlahnya, yang berbeda dari masyarakat pada umumnya di lingkungan tempat tinggalnya dan selalu dihubungkan dengan kekuatan yang lemah.
- Kecenderungan preservasionis yaitu pemerintah dan NOGs [Non-Govermental Organizations]. Preservasionis adalah sikap yang dilakukan untuk menjaga identitas kelompok agar tidak terjadinya kepunahan.
- Minoritas dalam minoritas.
Terdapat beberapa ketegangan dalam politik multikultural, antara lain:
- Antara politik redistribusi (pemerataan atau bagaimana politik itu membagi kekuasaan) dan politik pengakuan.
- Antara diversity dan unity.
- Antara lokalitas, nasionalitas dan globalitas.
Setelah mengikuti “Guest Lecturer” yang dibawakan oleh Bapak Amin Mudzakir kemarin, saya banyak mendapat pengetahuan yang lebih luas mengenai keberagaman yang ada di masyarakat, multikulturalisme dan hak kaum minoritas. Ternyata banyak sekali konflik dan kasus yang terjadi selama ini atas dasar perbedaan. Mata kuliah ini tentu membuka hati saya untuk semakin menyadari bahwa perbedaan itu akan selalu muncul di lingkungan sekitar kita. Kalau tidak kita sikapi dengan hati nurani yang sadar dan menghargai tentu akan banyak terjadi pertentangan maupun perdebatan dengan orang lain. Tidak perlu melihat jauh, contoh saja teman satu kos atau kontrakan, pasti akan banyak perbedaan yang terjadi. Jika kita tidak memahami dan menghargai hal tersebut, tentu kita tidak akan rukun dan tidak akan dapat hidup bersama. Itulah pentingnya multikulturalisme dalam diri dan masyarakat Indonesia yang memiliki adat, budaya, suku dan agama yang sangat beragama. Multikulturalisme merupakan salah satu kunci untuk mencapai suatu perdamaian.
Dengan senyuman dunia akan damai dan tentram. Senyuman akan memberikan kesejukkan dalam hidup ini. Salam Senyum! :)
Jumat, 09 November 2012
Selasa, 20 Maret 2012
Hadirmu
By: Suwirawati N. A.
Di ufuk timur tergambar sosok yang membawa kedamaian
Sembari menguntai senyum ketulusan
Melangkah dengan pasti
Tanpa ragu di hati
Gambaran itu semakin mendekat
Terasa semakin dekat tuk merengkuhku
Terpancar aura lembut
Bertabur kasih di hatimu
Elakan tuk menghindar tak membuatmu pasrah
Sesekali aku pun lengah
Aku tertegun di tengah kehampaan
Tak mengerti makna kehadiran
Dengan yakin terus menggapaiku
Hempasan ombak tak mampu menggoyahkanmu
Kau mempersembahkan makna kesetiaan
Berhiaskan ketulusan
Kau tawarkan kebahagiaan
Kau tawarkan untaian ketulusan
Kau tawarkan kesetiaan
Kau kenalkan makna kesungguhan
Tuk merengkuh bahtera kedamaian
Di ufuk timur tergambar sosok yang membawa kedamaian
Sembari menguntai senyum ketulusan
Melangkah dengan pasti
Tanpa ragu di hati
Gambaran itu semakin mendekat
Terasa semakin dekat tuk merengkuhku
Terpancar aura lembut
Bertabur kasih di hatimu
Elakan tuk menghindar tak membuatmu pasrah
Sesekali aku pun lengah
Aku tertegun di tengah kehampaan
Tak mengerti makna kehadiran
Dengan yakin terus menggapaiku
Hempasan ombak tak mampu menggoyahkanmu
Kau mempersembahkan makna kesetiaan
Berhiaskan ketulusan
Kau tawarkan kebahagiaan
Kau tawarkan untaian ketulusan
Kau tawarkan kesetiaan
Kau kenalkan makna kesungguhan
Tuk merengkuh bahtera kedamaian
Rabu, 25 Januari 2012
IN MY MIND
Kadang aku merasa hidup ini sepi, kecil dan sangat sempit, namun kadang begitu ramai dan sangat luas. Kadang pula aku merasa hidup ini ramah, indah dan sangat indah. Tapi ada saatnya hidup ini begitu kejam, kelam dan kelabu. Sesungguhnya ada apa dibalik semua itu? Dari situ aku mencoba berpikir bahwa hidup itu pilihan bagi yang menjalani, semua yang kita hadapi itu terjadi karena pilihan kita sendiri. Apapun suasana yang kita rasakan dan kita hadapi adalah hasil dari pemikiran, yang kemudian berkembang menjadi pilihan kita. Kita hidup untuk merasakan nikmatnya perkembangan. Semua berawal dari ketidaktahuan menjadi tahu dan bahkan menjadi sosok yang ingin dianggap Maha tahu melalui sebuah proses yang luar biasa, dengan begitu tumbuh keinginan untuk menguasai dunia. Namun, apakah itu yang sebenarnya ingin kita capai? Bukan!
Alangkah indah dan tentramnya kehidupan kita jika diselimuti rasa cinta damai dan saling berbagi, berbagi bukan berarti selalu dengan materi, tetapi ada hal yang paling berarti di atas semua itu, yaitu cinta, kasih dan sayang. Senyuman tulus terurai disepanjang perjalanan hidup kita, disetiap hembus nafas kita selalu tergambar suasana sejuk akan ketulusan hati. Tak perlu berpikir muluk, namun pikiran kita selalu mengalir, mengalun lembut selayaknya lantunan melodi yang menghanyutkan jiwa. Membuka mata hati kita untuk menikati perjalanan hidup dengan rasa cinta, kasih dan sayang.
Keinginan berpikir tinggi itu wajar bagi makhluk hidup yang namanya manusia, tapi berpikir tinggi dengan dasar cinta, kasih dan sayang itulah yang ingin sekali saya rasakan. Walaupun itu tak mudah tapi tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup. BISA! Kata itu adalah kunci kita meraih apa yang kita rencanakan. Tetapi tidak lepas dari qodar, manusia hanya bisa berencana dan berusaha menjalankan yang kita rencanakan, untuk hasil Allah-lah yang Maha Mengetahui yang terbaik buat hamba-Nya.
Begitu pula separuh perjalanan yang saya rasakan, walau saya merasa ini baru mulai dan awal saya untuk belajar berdiri, mewujudkan damai dihati. Berpikir tinggi atas dasar rasa cinta, kasih dan sayang. Itulah yang ingin sekali saya rengkuh. Keinginan tinggi memang harus ada dan tertanam dalam diri kita, tapi yang perlu saya luruskan adalah dasar untuk membangunnya. Kebanyakan orang berpikir tinggi menjadi sebuah obsesi yang tinggi pula.
Alangkah indah dan tentramnya kehidupan kita jika diselimuti rasa cinta damai dan saling berbagi, berbagi bukan berarti selalu dengan materi, tetapi ada hal yang paling berarti di atas semua itu, yaitu cinta, kasih dan sayang. Senyuman tulus terurai disepanjang perjalanan hidup kita, disetiap hembus nafas kita selalu tergambar suasana sejuk akan ketulusan hati. Tak perlu berpikir muluk, namun pikiran kita selalu mengalir, mengalun lembut selayaknya lantunan melodi yang menghanyutkan jiwa. Membuka mata hati kita untuk menikati perjalanan hidup dengan rasa cinta, kasih dan sayang.
Keinginan berpikir tinggi itu wajar bagi makhluk hidup yang namanya manusia, tapi berpikir tinggi dengan dasar cinta, kasih dan sayang itulah yang ingin sekali saya rasakan. Walaupun itu tak mudah tapi tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup. BISA! Kata itu adalah kunci kita meraih apa yang kita rencanakan. Tetapi tidak lepas dari qodar, manusia hanya bisa berencana dan berusaha menjalankan yang kita rencanakan, untuk hasil Allah-lah yang Maha Mengetahui yang terbaik buat hamba-Nya.
Begitu pula separuh perjalanan yang saya rasakan, walau saya merasa ini baru mulai dan awal saya untuk belajar berdiri, mewujudkan damai dihati. Berpikir tinggi atas dasar rasa cinta, kasih dan sayang. Itulah yang ingin sekali saya rengkuh. Keinginan tinggi memang harus ada dan tertanam dalam diri kita, tapi yang perlu saya luruskan adalah dasar untuk membangunnya. Kebanyakan orang berpikir tinggi menjadi sebuah obsesi yang tinggi pula.
Dari saya berusia balita hingga usia remaja perjalanan hidupku begitu lancar dan indah, seolah apa yang telah saya raih itu begitu memuaskan bagiku pribadi dan orang disekelilingku. Itu merupakan hasil dari berpikir tinggiku, akan tetapi dikala itu saya belum berpikir dasar dalam diri saya, semua mengalir begitu saja dengan mulusnya. Tanpa saya sadari saya berpikir, sebenarnya ada dasar yang saya alami dalam proses perjalananku. Dan anehnya usaha yang saya keluarkan itu tak bisa saya ingat, seberat apakah untuk meraihnya saya sama sekali tak mengingatnya dengan baik, seolah berjalan dengan sendirinya. Ketika menginjak ambang pintu keluar remaja begitu banyak kerikil-kerikil yang menghiasi perjalananku. Untuk meraih sesuatu yang kita impikan ternyata membutuhkan pengorbanan dan perjuangan. Dari situlah saya mulai berpikir lebih sedikit meningkat. Yaitu mengenai perjuangan dan hasil. Kemudian meningkat lagi yaitu kepribadian kita turut menentukan hasil. Dan kini barulah terkonsep akan dasar yang ingin sekali saya bangun dan pikirkan, yaitu kesuksesan yang dibangun atas dasar cinta, kasih dan sayang, khususnya terhadap semua dan sesama. Saya merasa itu akan menjadi dasar dari sebuah kesuksesanku.
Saya berusaha menjalani hidup ini dengan penuh kelembutan, penuh cinta, kasih dan sayang. Karena hati saya berkata bahwa kelembutan diriku akan menabur benih-benih yang menyejukkan kalbu bagi lingkungan sekitar. Walau saya seperti manusia pada umumnya yang terkadang mengalami sebuah perbedaan, pertentangan, melakukan sebuah kekhilafan dan adakalanya terbawa arus pergaulan ke arah yang berlawanan dengan kata hati dan prinsip saya. Tapi sebisa mungkin saya akan belajar dan terus belajar untuk meredam dan mengontrol diri saya. Termasuk berusaha untuk menahan emosi. Belajar untuk tersenyum pada kesalahan dan pertentangan maupun perbedaan yang ada. Dengan memposisikan kita pada posisi orang lain. Sesungguhnya Allah pun telah menciptakan kita dalam posisi yang jauh dari kata sempurna, tidak ada manusia yang sempurna. Oleh sebab itu, saya pun merasa bahwa saya juga tak akan pernah luput dari kesalahan. Coba renungkan, disaat kita berada pada pihak yang bersalah tentunya kita akan selalu berharap untuk diterima dan dimaafkan. Dari situlah saya berpikir bahwa mereka yang berada pada pihak bersalah tentunya akan merasakan hal yang demikian pula. Dengan banyak memberi maaf insyaallah Allah dan orang di sekitar kitapun akan memberikan maafnya ketika kita melakukan hal yang khilaf. "Tersenyumlah, karena dunia akan turut tersenyum olehmu"
Kembali membahas tentang sebuah impian. Kita wajib bermimpi tapi adakalanya mimpi kita tak sesuai dengan ketetapan Allah. Saat impian kita tak terwujud, di situlah bukti bahwa Allah sangat peduli pada hambaNya. Allah menunjukkan jalan yang lebih baik buat kita, karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas segalanya. Begitupun saya, saya mempunyai banyak angan-angan yang ternyata belum sesuai dengan saya, "sebagai contoh dalam memilih kuliah, yang awalnya saya berharap mendapat beasiswa dipendidikan akuntansi ternyata saya dapatnya dijurusan pendidikan Bahasa Inggris". Dari situ saya berpikir bahwa Allah Maha Tahu yang lebih baik buat kita, dan yang baik itu tentunya tidak mudah. Untuk mendapat yang terbaik membutuhkan usaha yang terbaik pula. Angan yang selalu saya bayangkan yaitu ingin mendidik putra-putra bangsa harus saya perjuangkan, walau harus berusaha meninggalkan zona nyaman saya. Begitu banyak hal yang ada dalam pikiran saya, namun ternyata saya berada pada pijakkan pertama, yaitu pendidik. Sebuah harapan yang telah tertanam dalam kalbu sejak saya masih berada di bangku SD. Hingga SMA harapan itu tak pernah pupus, walau terkadang terlintas anggan yang lain. Ibaratkan disaat kita melihat sebuah sinetron, begitu banyak iklan yang mengganggu keasyikkan kita. Angan kita juga demikian, begitu banyak hal-hal lain yang terlintas menghiasi pikiran kita. Tapi dari banyaknya angan tersebut tentunya ada salah satu angan yang terbaik dan sesuai buat kita. Walau kita belum tahu pasti berhasil atau tidak yang jelas kita punya hak untuk berhasil dan memilih jalan hidup kita masing-masing. Selain itu kita juga memiliki kewajiban untuk merealisasikan apa yang kita angankan. Untuk itu bagi yang mengalami hal sama dengan saya, yaitu sedang menjalani perjalanan yang sudah tahu kita keberatan, janganlah terus-terusan Anda berusaha melarikan diri, mungkin Allah sedang menyiapkan kesuksesan kita dibalik rasa berat tersebut. Mulailah belajar mencintai zona tidak nyaman Anda. Dan berpikirlah solusi untuk menghadapi ketidaknyamanan maupun beratnya jalan hidup yang kita jalani. Isilah hari-hari dengan rasa cinta, kasih dan sayang terhadap siapapun dan apapun yang ada, semoga Allah memberkahi kalian atas cinta, kasih dan sayang yang telah kalian curahkan.
Saya berusaha menjalani hidup ini dengan penuh kelembutan, penuh cinta, kasih dan sayang. Karena hati saya berkata bahwa kelembutan diriku akan menabur benih-benih yang menyejukkan kalbu bagi lingkungan sekitar. Walau saya seperti manusia pada umumnya yang terkadang mengalami sebuah perbedaan, pertentangan, melakukan sebuah kekhilafan dan adakalanya terbawa arus pergaulan ke arah yang berlawanan dengan kata hati dan prinsip saya. Tapi sebisa mungkin saya akan belajar dan terus belajar untuk meredam dan mengontrol diri saya. Termasuk berusaha untuk menahan emosi. Belajar untuk tersenyum pada kesalahan dan pertentangan maupun perbedaan yang ada. Dengan memposisikan kita pada posisi orang lain. Sesungguhnya Allah pun telah menciptakan kita dalam posisi yang jauh dari kata sempurna, tidak ada manusia yang sempurna. Oleh sebab itu, saya pun merasa bahwa saya juga tak akan pernah luput dari kesalahan. Coba renungkan, disaat kita berada pada pihak yang bersalah tentunya kita akan selalu berharap untuk diterima dan dimaafkan. Dari situlah saya berpikir bahwa mereka yang berada pada pihak bersalah tentunya akan merasakan hal yang demikian pula. Dengan banyak memberi maaf insyaallah Allah dan orang di sekitar kitapun akan memberikan maafnya ketika kita melakukan hal yang khilaf. "Tersenyumlah, karena dunia akan turut tersenyum olehmu"
Kembali membahas tentang sebuah impian. Kita wajib bermimpi tapi adakalanya mimpi kita tak sesuai dengan ketetapan Allah. Saat impian kita tak terwujud, di situlah bukti bahwa Allah sangat peduli pada hambaNya. Allah menunjukkan jalan yang lebih baik buat kita, karena sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas segalanya. Begitupun saya, saya mempunyai banyak angan-angan yang ternyata belum sesuai dengan saya, "sebagai contoh dalam memilih kuliah, yang awalnya saya berharap mendapat beasiswa dipendidikan akuntansi ternyata saya dapatnya dijurusan pendidikan Bahasa Inggris". Dari situ saya berpikir bahwa Allah Maha Tahu yang lebih baik buat kita, dan yang baik itu tentunya tidak mudah. Untuk mendapat yang terbaik membutuhkan usaha yang terbaik pula. Angan yang selalu saya bayangkan yaitu ingin mendidik putra-putra bangsa harus saya perjuangkan, walau harus berusaha meninggalkan zona nyaman saya. Begitu banyak hal yang ada dalam pikiran saya, namun ternyata saya berada pada pijakkan pertama, yaitu pendidik. Sebuah harapan yang telah tertanam dalam kalbu sejak saya masih berada di bangku SD. Hingga SMA harapan itu tak pernah pupus, walau terkadang terlintas anggan yang lain. Ibaratkan disaat kita melihat sebuah sinetron, begitu banyak iklan yang mengganggu keasyikkan kita. Angan kita juga demikian, begitu banyak hal-hal lain yang terlintas menghiasi pikiran kita. Tapi dari banyaknya angan tersebut tentunya ada salah satu angan yang terbaik dan sesuai buat kita. Walau kita belum tahu pasti berhasil atau tidak yang jelas kita punya hak untuk berhasil dan memilih jalan hidup kita masing-masing. Selain itu kita juga memiliki kewajiban untuk merealisasikan apa yang kita angankan. Untuk itu bagi yang mengalami hal sama dengan saya, yaitu sedang menjalani perjalanan yang sudah tahu kita keberatan, janganlah terus-terusan Anda berusaha melarikan diri, mungkin Allah sedang menyiapkan kesuksesan kita dibalik rasa berat tersebut. Mulailah belajar mencintai zona tidak nyaman Anda. Dan berpikirlah solusi untuk menghadapi ketidaknyamanan maupun beratnya jalan hidup yang kita jalani. Isilah hari-hari dengan rasa cinta, kasih dan sayang terhadap siapapun dan apapun yang ada, semoga Allah memberkahi kalian atas cinta, kasih dan sayang yang telah kalian curahkan.
Salam Senyum Dariku ^_^
Minggu, 22 Januari 2012
Puisi
PENANTIAN
![]() |
| Suwirawati N. A. |
by Suwirawati N.A
Lantuan nada cinta mengalun lembut
Terdengar syahdu saat rindu semakin menggebu di dalam kalbu
Diri ini kian larut dalam kehampaan
Kelam dalam penantian yang tak kunjung pupus
Hinggap ke lembah naluri yang hampir mati
Terhimpit dalam keluhnya kepedihan yang kurasa
Rangkain kata tersusun penuh makna
Mewakili ketidakberdayaan diri ini
Aku tertegun saat kau berada dihadapanku
Seolah jantung ini tak mampu lagi mengendalikan aliran darahku
Darah ini mengalir dengan derasnya
Diri ini serasa bagai tersengat aliran listrik dengan tegangan tinggi
Mulut ini tak kuasa bergerak tuk menyapa
Hanya seuntai senyum yang dapat mewakili
Mampukah jiwa ini merasuk ke dalam dua hati
Tuk menggapai butir mutiara cinta
yang menjanjikan kata setia
Semangat Untuk Negeriku
by Wira
Ketika sang senja datang menjemput
Aku termenung terbawa dalam lamunan
Dalam hati terlintas sebuah tanya
Siapakah penyelamat bangsa kelak?
Siapakah sinar bangsa kelak?
Jawabnya ada dalam hati kita
Kita terlahir untuk memikul sejuta harapan
Kita adalah kekuatan bangsa
Yang akan memancarkan sinar terdahsyat bagi negeri kita Indonesia
Lamunan nasib terukir dalam hati
Terselib sebuah kemarahan alam
Hingga jutaan nyawa tercecer bak sampah busuk
Rintihan tangis terdengar ngilu bagaikan lagu kebangsaan
Terlihat sisi kelam dalam kehidupan
Jiwa tercipta tanpa arti
Tidak...
Kehidupan ini bagai panggung sandiwara
Tak dapat ditebak apa yang akan terjadi dihari esok
Kita tak tahu ke mana akan dibawanya pergi
Tapi kita bisa
Dimulai dari semangat kita bangsa tersenyum
Kobarkan bara api, berjuang perangi kegelapan
Jayalah Indonesiaku!
Ketika sang senja datang menjemput
Aku termenung terbawa dalam lamunan
Dalam hati terlintas sebuah tanya
Siapakah penyelamat bangsa kelak?
Siapakah sinar bangsa kelak?
Jawabnya ada dalam hati kita
Kita terlahir untuk memikul sejuta harapan
Kita adalah kekuatan bangsa
Yang akan memancarkan sinar terdahsyat bagi negeri kita Indonesia
Lamunan nasib terukir dalam hati
Terselib sebuah kemarahan alam
Hingga jutaan nyawa tercecer bak sampah busuk
Rintihan tangis terdengar ngilu bagaikan lagu kebangsaan
Terlihat sisi kelam dalam kehidupan
Jiwa tercipta tanpa arti
Tidak...
Kehidupan ini bagai panggung sandiwara
Tak dapat ditebak apa yang akan terjadi dihari esok
Kita tak tahu ke mana akan dibawanya pergi
Tapi kita bisa
Dimulai dari semangat kita bangsa tersenyum
Kobarkan bara api, berjuang perangi kegelapan
Jayalah Indonesiaku!
Contoh Teori Piaget
Contoh Teori Piaget
• Tahap pertama: sejak bayi lahir sampai berusia dua tahun dia masih diklasifikasikan tahap pertama.
Contoh:
Contoh:
o Animisme, seperti seorang anak mengatakan, “pohon itu kok bisa bergoyang-goyang mendorong daunnya sehingga daunnya jatuh.”
o Saat anak disuruh menggambar oleh guru mereka, dia akan mulai menggambarkan apa yang ada dalam imajinasinya.
o Seorang anak berimajinasi menjadi putri yang cantik, berambut panjang, memakai gaun indah dan sepatu kaca seperti Cinderella yang ada dalam dongeng.
• Tahap ketiga: berlangsung dari usia tujuh hingga sebelas tahun, merupakan tahap ketiga piaget. Pada tahap ini anak dapat melakukan penalaran logis.
Contoh:
o Anak bisa membedakan ukuran besar kecilnya benda dan sudah bisa mengurutkan ukurannya baik dari yang terkecil hingga terbesar ataupun sebaliknya.
• Tahap keempat: ketika anak berusia sebelas tahun hingga dewasa, merupakan tahap keempat dan terakhir dari piaget. Pada tahap ini, individu sudah memiliki kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia.
Contoh:
o Ketika ada buah jatuh dari atas pohon seorang anak sudah bisa berpikir kalau buah tersebut jatuh ke bawah karena adanya gaya gravitasi bumi, bahkan dia sudah bisa menelitinya secara ilmiah.
o Ketika hujan turun individu dalam tahap ini sudah bisa mengklasifikasikan ke dalam jenis hujan tertentu sesuai ilmu geografi bab hidrologi dan dia juga sudah bisa mengerti bagaimana proses terjadinya hujan, dia sudah tidak berpikir bahwa hujan itu turun karena langit menangis.
Kesimpulan Teori Piaget
1. Teori Piaget mengenai perkembangan kognitif mendefinisikan kembali intelegensi, pengetahuan, dan hubungan dengan lingkungannya.
2. Perkembangan kognitif mempunyai empat aspek yaitu kematangan, pengalaman, interaksi social, dan ekuilibrasi.
3. Menurut Piaget, setiap organisme hidup cenderung untuk melakukan adaptasi dan organisasi. Dalam proses adaptasi dan organisasi terdapat empat konsep dasar yaitu skema, asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi.
4. Skema adalah struktur kognitif yang digunakan organisme untuk mengadaptasi diri terhadap lingkungannya dan menata lingkungan itu secara intelektual.
5. Asimilasi adalah proses yang digunakan seseorang untuk mengintegrasikan bahan persepsi baru atau stimulus baru ke dalam skemata atau pola perilaku yang sudah ada.
Source: http://ilmuwanmuda.wordpress.com/piaget-dan-teorinya/
• Tahap pertama: sejak bayi lahir sampai berusia dua tahun dia masih diklasifikasikan tahap pertama.
Contoh:
- Bayi hanya akan menangis ketika apa yang dia inginkan tidak dituruti, dia belum bisa berpikir alasannya mengapa yang dia inginkan tidak dituruti.
- Sang anak menirukan cara makan ayahnya, baik dari cara memegang sendok, cara mengunyah dan gerak tubuh lainnya.
Contoh:
o Animisme, seperti seorang anak mengatakan, “pohon itu kok bisa bergoyang-goyang mendorong daunnya sehingga daunnya jatuh.”
o Saat anak disuruh menggambar oleh guru mereka, dia akan mulai menggambarkan apa yang ada dalam imajinasinya.
o Seorang anak berimajinasi menjadi putri yang cantik, berambut panjang, memakai gaun indah dan sepatu kaca seperti Cinderella yang ada dalam dongeng.
• Tahap ketiga: berlangsung dari usia tujuh hingga sebelas tahun, merupakan tahap ketiga piaget. Pada tahap ini anak dapat melakukan penalaran logis.
Contoh:
o Anak bisa membedakan ukuran besar kecilnya benda dan sudah bisa mengurutkan ukurannya baik dari yang terkecil hingga terbesar ataupun sebaliknya.
• Tahap keempat: ketika anak berusia sebelas tahun hingga dewasa, merupakan tahap keempat dan terakhir dari piaget. Pada tahap ini, individu sudah memiliki kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia.
Contoh:
o Ketika ada buah jatuh dari atas pohon seorang anak sudah bisa berpikir kalau buah tersebut jatuh ke bawah karena adanya gaya gravitasi bumi, bahkan dia sudah bisa menelitinya secara ilmiah.
o Ketika hujan turun individu dalam tahap ini sudah bisa mengklasifikasikan ke dalam jenis hujan tertentu sesuai ilmu geografi bab hidrologi dan dia juga sudah bisa mengerti bagaimana proses terjadinya hujan, dia sudah tidak berpikir bahwa hujan itu turun karena langit menangis.
Kesimpulan Teori Piaget
1. Teori Piaget mengenai perkembangan kognitif mendefinisikan kembali intelegensi, pengetahuan, dan hubungan dengan lingkungannya.
2. Perkembangan kognitif mempunyai empat aspek yaitu kematangan, pengalaman, interaksi social, dan ekuilibrasi.
3. Menurut Piaget, setiap organisme hidup cenderung untuk melakukan adaptasi dan organisasi. Dalam proses adaptasi dan organisasi terdapat empat konsep dasar yaitu skema, asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi.
4. Skema adalah struktur kognitif yang digunakan organisme untuk mengadaptasi diri terhadap lingkungannya dan menata lingkungan itu secara intelektual.
5. Asimilasi adalah proses yang digunakan seseorang untuk mengintegrasikan bahan persepsi baru atau stimulus baru ke dalam skemata atau pola perilaku yang sudah ada.
Source: http://ilmuwanmuda.wordpress.com/piaget-dan-teorinya/
Experience
I Love Scout
When I was in Senior High School, I was active in scouting activities. Scouting has been my hobby since I was in elementary School until now. I missed scouting very much. There were so many things that I learned from scouting, many stories were not forgotten. One of them was about my experience while camping during semester break. Usually, every end of the year until the new year we have an activity called “Kemah Wisata” or Tourist Camp. It was usually held for four days. The camping was held at the tomb R.A. Kartini, Rembang, Central of Java. We were members of the executive committee. I was assigned at P3K section as well as I helped in the consumption section. So, most of my activities were associated with cooking.
On the first day, we were busy setting up the camp, and some were busy preparing dinner. At night after dinner activities began. In this camp there were no heavy activities, that was why it was called Tourist Camp. The activities were usually fun and enjoyable.
On the second day, I started helping in the kitchen tent. I helped slicing and cutting food, fried side dish, but more frequently I washed dishes and tools used for cooking. I was so tired because I should do it three times a day. After preparing breakfast, I cooked for lunch, and then cooked for dinner. We cooked without any rest. All the committee members’ energy were completely drained to prepare fun activities for younger scouts. We always tried to set aside our own interests. In the evening, there was a heavy rain, until all the tents could not be use except the kitchen tent. All evacuated in the hall. We used the hall for the beds and to keep our things. Tent only served as a display. It rained for three days the whole day. Many activities were not done, until in the end, the committee planned to anticipate rain. And as a member of the P3K section, I was very tired of having to take care of younger brothers and sisters who were sick. Luckily, my friend helped me. To make it worse, there were committee members who also got sick. Every day activities took place accompanied by rain.
In the evening, we did a brief meeting with the elder generation above us. We performed evaluation but the elder generation above us criticized us. They said that our committee worked less than the maximum. We did not work as a compact team and did not work according to the plan. The committee leader was blamed by them. The evaluation was getting hot for more nights until one committee member got sick. So I was forced to leave the place to take care of him. The meeting was finished at 1 o’ clock a.m. And there was one brother who came up to me and he asked me, “Could you make some food for your brothers, please? They have not had dinner.” Then, we both headed the kitchen tent while was far from the hall. I was confused because there were no clean cooking pans. Finally, he cooked noodles and I helped him to prepare the pans. Then he said, "It seems you have never been to the kitchen before, you must learn!" I was ashamed of what he said to me. I always remember those words until now.
On the third day, the committee improved their work. They prepared for the New Year’s event. We had a bonfire ceremony, blow horns together and watched the bonfire together. It was very merry.
On the last day, in the morning, there were still exciting activities. At ten o'clock we were busy packing and cleaning. Each of us had a particular task. I cleaned up the vast hall. I was so sad when the tents torn down. I was sad when the closing ceremony took place. Then, I arrived at home at four o'clock p.m. I was happy because I had taken a rest but the situation and sound in the camp was still ringing in my ears. Two days later, I was sick with typhus. May be because I ate late, I was too tired, I lacked of sleep, and because of the bad weather.
My parents were angry and prohibited me to follow scouting activities again but I still followed and I was so happy with my experience in scouting. I will love it forever.
When I was in Senior High School, I was active in scouting activities. Scouting has been my hobby since I was in elementary School until now. I missed scouting very much. There were so many things that I learned from scouting, many stories were not forgotten. One of them was about my experience while camping during semester break. Usually, every end of the year until the new year we have an activity called “Kemah Wisata” or Tourist Camp. It was usually held for four days. The camping was held at the tomb R.A. Kartini, Rembang, Central of Java. We were members of the executive committee. I was assigned at P3K section as well as I helped in the consumption section. So, most of my activities were associated with cooking.
On the first day, we were busy setting up the camp, and some were busy preparing dinner. At night after dinner activities began. In this camp there were no heavy activities, that was why it was called Tourist Camp. The activities were usually fun and enjoyable.
On the second day, I started helping in the kitchen tent. I helped slicing and cutting food, fried side dish, but more frequently I washed dishes and tools used for cooking. I was so tired because I should do it three times a day. After preparing breakfast, I cooked for lunch, and then cooked for dinner. We cooked without any rest. All the committee members’ energy were completely drained to prepare fun activities for younger scouts. We always tried to set aside our own interests. In the evening, there was a heavy rain, until all the tents could not be use except the kitchen tent. All evacuated in the hall. We used the hall for the beds and to keep our things. Tent only served as a display. It rained for three days the whole day. Many activities were not done, until in the end, the committee planned to anticipate rain. And as a member of the P3K section, I was very tired of having to take care of younger brothers and sisters who were sick. Luckily, my friend helped me. To make it worse, there were committee members who also got sick. Every day activities took place accompanied by rain.
In the evening, we did a brief meeting with the elder generation above us. We performed evaluation but the elder generation above us criticized us. They said that our committee worked less than the maximum. We did not work as a compact team and did not work according to the plan. The committee leader was blamed by them. The evaluation was getting hot for more nights until one committee member got sick. So I was forced to leave the place to take care of him. The meeting was finished at 1 o’ clock a.m. And there was one brother who came up to me and he asked me, “Could you make some food for your brothers, please? They have not had dinner.” Then, we both headed the kitchen tent while was far from the hall. I was confused because there were no clean cooking pans. Finally, he cooked noodles and I helped him to prepare the pans. Then he said, "It seems you have never been to the kitchen before, you must learn!" I was ashamed of what he said to me. I always remember those words until now.
On the third day, the committee improved their work. They prepared for the New Year’s event. We had a bonfire ceremony, blow horns together and watched the bonfire together. It was very merry.
On the last day, in the morning, there were still exciting activities. At ten o'clock we were busy packing and cleaning. Each of us had a particular task. I cleaned up the vast hall. I was so sad when the tents torn down. I was sad when the closing ceremony took place. Then, I arrived at home at four o'clock p.m. I was happy because I had taken a rest but the situation and sound in the camp was still ringing in my ears. Two days later, I was sick with typhus. May be because I ate late, I was too tired, I lacked of sleep, and because of the bad weather.
My parents were angry and prohibited me to follow scouting activities again but I still followed and I was so happy with my experience in scouting. I will love it forever.
Langganan:
Postingan (Atom)

